Dahulu sebutan Pulau Papua dikenal sebagai Nova Guinea, yang dalam bahasa
spanyol berarti Guinea Baru. Ini dikarenakan para pelaut spanyol yang pertama
menginjakan kaki di Pulau Papua pada tahun 1582, karena melihat adanya
kemiripan penduduk papua dengan penduduk di Benua Afrika. Saat ditemukan pulau
besar itu, Spayol mengklaim bahwa pulau papua termasuk wilayah kerajaan
Spanyol.
![]() |
| Foto Berita Aneh. |
Pada tahun 1663, Belanda mengambil alih kekuasaan atas Pulau Papua dengan
menghambat perdagangan rempah-rempah Spayol di wilayah Papua. Mulai saat itulah
Belanda mulai berkuasa hingga menyerahkan Papua yang dulunya Irian Barat ke
negara federasi Indonesia sebagai negara kesatuan RI. Selain Spayol dan Belanda
Inggris pun sempat menginjakan kaki dan berkuasa atas Pulau Papua pada tahun
1774 dan akhirnya dengan tantangan keras Sultan Tidore atas wilayah ini maka
pada tahun 1814 Inggris meninggalkan Papua bagian barat.
Penjajahan atas tanah papua tidak terlepas dari kekayaan alam yang
dimilikinya. Pulau papua memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, mulai dari
emas, tembaga, nikel, batubara, minyak tanah, gas alam, tanah yang subur
akan pertanian, kekayaan laut dan hutannya yang menggiurkan bahkan uranium yang
menjadi incaran para penguasa dunia.
Kekayaan-kekayaan inilah yang mengakibatkan munculnya peradaban kapitalisme
besar-besaran di Tanah Papua oleh kapitalis eropa, terutama Belanda. Keberadaan
peradaban kapitalis inilah yang menjadi sumber konflik di Tanah Papua
dikemudian hari, bahkan hingga sekarang.
Pada umumnya, bangsa Papau memiliki sifat kultur yang mampu mempertahankan
keberadaan dirinya selama bertahun-tahun, yaitu sifat mengatur dirinya sendiri.
Sifat dasar ini selalu ditunjukan oleh bangsa Papua ketika berhadapan dengan
pihak-pihak lain, seperti pemerintah kolonial Belanda, misionaris, pedagang dan
pendatang pada umumnya.
Dalam kebudayaan masyarakat papua juga dikenal berbagai cara dalam
menyatakan ketidaksetuaan seseorang terhadap suatu hal, biasanya dengan
memprotes secara terbuka, melarikan diri, menyendiri, bersikap acuh tak acuh
bahkan melakukan perlawanan fisik. Semuanya itu dapat dilakukan untuk
mempertahankan keberadaan dirinya.
Pada tahun 1920, Hindia Belanda telah menginjakan kaki di Papua hingga
berhasil memepersatukan teritorialnya di Pulau Papua. Sedangkan keterlibatan
PBB di Irian Barat dimulai pada Tahun 1949 melalui pembentukan komisi PBB untuk
Indonesia. Komisi ini merancang pelaksanaan konferensi meja bundar di Belanda
yang menghasilkan suatu persetujuan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke
federasi Indonesia, dibawah pimpinan Soekarno.
Selama perudinagn berlansung, Belanda bersih keras mempertahankan
kedaulatannya atas Irian Barat. Sebaliknya, Jakarta mempertahankan diri bahwa
Irian Barat merupakan bagian integral dari Hindia Timur Belanda dan harus
menjadi bagian dari wilayah kesatuan Republik Indonesia.
Ketika persengketaan irian barat semakin sengit, akhirnya pada tanggal 1
Desember 1961 pemerintah Belanda menyetujui pendeklarasian kemerdekaan Papua di
Holandia, kini Jayapura. Seperti yang telah dinyatakan dalam New Guinea
Raad yang Kemudian Bangsa Papua menjadikannya sebagai hari bersejarah
atas kemerdekaannya.
Pada tanggal 2 januari 1962, dibentuklah Komando Mandala (TRIKORA) yang
dipimpin Mayor Jendral Soeharto untuk membebaskan Irian Barat (Papua). Akhirnya
terjadi pertempuran antara pemerintah Belanda dan Indonesia. Karena itu, pada
tanggal 21 Februari 1962, Presiden Soekarno bertemu dengan presiden Amerika
Serikat, John F. Kennedy untuk menyelesaikan masalah Irian Barat (Papua). Maka,
atas tekanan dari Amerika Serikat, pada tanggal 15 Agustus 1962 Pemerintah
Belanda akhirnya menandatangani persetujuan dengan indonesia mengenai
penyerahan kedaulatan Irian Barat kepada Indonesia. Persetujuan ini yang
dikenal dengan New York Agreement yang isinya tentang
penentuan nasib sendiri untuk masuk ke Indonesia atau tidak, namun tidak perna
dipersoalkan.
Kemudian pada bulan Agustus tahun 1968 suatu tim PBB berkunjung ke Tanah
Papua untuk membantu memberikan pendapat dan terlibat lansung dalam penentuan
nasib sendiri rakyat papua (PEPERA). Namun demikian, bagi Bangsa Papua PEPERA
1969 adalah manipulasi hak suara Bangsa Papua Barat yang akhirnya berakhir
dengan ketidakadilan.
Pemerintah Indonesia yang memiliki hak absolut untuk menjaga negara
kesatuan kemudian menempatkan pasukan-pasukan militernya dalam jumlah yang
besar diseluruh Tanah Papua, pada tanggal 1 Mei 1963.
Kehadiran aparat keamanan di Tanah Papua pada kenyataannya malah
mengacaukan dan merisaukan bangsa Papua, ketika hak asasi dan politiknya
terus-menerus dilanggar. Operasi-operasi pun terjadi oleh aparat keamanan
Republik Indonesia, seperti Operasi Sadar I-IV (1965-1966), operasi Bratayudha
(1966-1967), operasi wibawa I-IV (1967-1969), operasi pamungkas (1965-1971),
operasi wisnumurti I dan II, Operasi pasca pembebasan Mapnduma, operasi
penyisiran masyarakat sipil di Abepura (2000) dan Wasior (2001), Operasi wamena
berdarah dan Operasi lainnya. Akibatnya, banyak orang Papua yang tak bersalah
di tangkap, disiksa, bahkan dibunuh karena dianggap melawan kedaulatan Republik
Indonesia. Hak asasi dan politiknya dilanggar sehingga yang ada hanyalah
kekacauan di Tanah Papua, sedangkan Bangsa Papua menginginkan kedamaian atas
jati dirinya.
luapan pemisahan diri bagi masyarakat Papua sudah ada sejak dulu dan terus
berkembang hingga kemudian disebut sebagai Organisasi Papua merdeka (OPM), yang
semakin lama semakin meluas hingga kini dan diikuti oleh demonstran-demonstran
kaum nasionalis. Pergerakan organisasi Papua merdeka (OPM) dimulai pada tanggal
26 Juli 1965 di Manokwari yang pimpin oleh Sersan Mayor Permanas Fery Awom.
Rasa kehilangan harkat dan martabat ditanahnya sendiri terasa semakin
mengental sehingga gejolak untuk memisahkan diri dari negara kesatuan RI terus
meningkat tajam. Ini sangat terlihat jelas saat pendekatan pembangunan pada
masa orde baru yang menempatkan masyarakat Papua hanya sebagai objek yang justru
melahirkan sentimen anti Indonesia yang semakin terakumulatif menjadi
suatu self defeating power bagi masyarakat Papua Barat.
Disamping itu, banyak kalangan yang salah presepsi bahkan belum paham
mengenai akar persoalan di Tanah Papua, yang sebenarnya diakibatkan oleh
terjadinya penyimpangan-penyimpangan pada sejarah Papua.
Sejarah telah mencatat dan membuktikan bahwa wilayah Irian Barat (Papua)
tidak termasuk wilayah Indonesia. Ini terbukti karena beberapa sebab,
antaranya:
- Jauh
sebelum indonesia mengambil ahli Tanah Papua, Tanah papua telah menjadi
bagian dari kerajaan Belanda pada tanggal 7 Maret 1910 dan tidak menjadi
wilayah Hindia Belanda yang saat itu berkedudukan di Batavia atau sekarang
Jakarta selama tiga setengah abad (350 Tahun)
- Pada tanggal
23 Agustus 1956 dalam perubahan UUD Belanda, Tanah Papua (new Guinea)
telah menjadi bagian dari kerajaan Nederland.
- Berdasarkan
Pidato Presiden soekarno di depan sidang BPUPKI dan PPKI Pada tanggal 11
juli 1945 bahwa Indonesia merdeka hanya meliputi sabang (Aceh) sampai
Amboina (Maluku). Sedangkan Tanah Papua tidak dimasukan atau diluar
wilayah hukum RIS atau RI.
- Dalam
Sidang tersebut, bahkan dengan tegas Dr. Moh. Hatta mengatakan bahwa
kemerdekaan RI hanya untuk rumpun bangsa melayu tetapi rumpun melanesia
tidak termasuk dengan alasan orang Papua masih terbelakang dan tertinggal,
biarlah nanti kemudian Orang Papua menentukan nasibnya sendiri atau
Merdeka.
- Presiden
terpilih, Abdulrahman Wahid kemudian membuka wacana baru yaitu
dengan mengijinkan pengibaran bendera Bintang
Kejora pada peringatan hari kemerdekaan papua pada tanggal 1 Desember
1999.
Maka dari fakta-fakta sejarah tersebut, dapat kita pahami bersama bahwa
pendudukan Irian Barat oleh pemerintah RI menjadi bagian dari wilayah negara
adalah hanya untuk kepentingan kekuasaan, politik dan ekonomi.
Orang Papua bahkan tidak pernah terlibat dan dilibatkan pada masa-masa awal
perjuangan dan persengketaan bangsa-bangsa serta perumusan perjanjian politik,
misalnya tidak ada kekuatan hukum RI yang mengikat bangsa dan bumi Papua sejak
awal perjuangan hingga tahun 1999. Seperti, Konferensi Meja Bundar pada bulan
Desember 1949 di Denhark dan New York Agreement 15 Agustus
1962 di Amerika antara pemerintah RI dan Kerajaan Belanda serta Roma Agreement antara
kerajaan Belanda, RI dan AS.
Penolakan Bangsa Papua terhadap pemerintah RI telah dimulai pada tahun 1951 dalam sikap penyataan yang terdiri dari 16 pasal yang ditandatangani oleh para tokoh dan pemimpin papua, jauh sebelum terjadi PEPERA.
Rakyat Papua secara konstitusional telah mendirikan negara merdeka pada tanggal 1 Desember 1961 di Holandia, kini Jayapura, yang dilengkapi dengan alat kenegaraan Papua Barat dan pada tanggal 1 Desember Bangsa Papua merayakannya sebagai hari kemerdekaannya.

0 Komentar
Penulisan markup di komentar