Ada seorang pria bernama Jhon Bingga, namun ia sering dipanggil Jhon oleh
kerabatnya. Dia orang yang tampan, baik hati dan tidak sombong. Karena
ketampananya banyak wanita yang tergila-gila padanya. Semasa kuliah ia dikenal
sebagai pribadi yang rajin dan cerdas. Sayangnya, Jhon adalah orang yang agak
pemalu sehingga kadang membuatnya tidak percaya diri.
Ada
juga seorang wanita cantik bernama Elisabet di kota itu. Wanita ini sering
dipanggil Elis oleh kerabatnya. Elis dikenal sebagai seorang wanita yang baik
hati, sabar dan juga tidak sombong. Ia selalu aktif dalam organisasi
kemanusiaan dan berjiwa sosialis. Dia juga seorang pecinta bunga. Banyak
koleksi bunga di rumahnya. Mulai dari halaman depan sampai
halaman belakang. Tidak hanya itu, dalam rumahnya pun banyak bunga yang dipotkan.
Elisabet
adalah teman kuliahnya Jhon Bingga. Mereka sudah saling kenal sejak masa-masa
kuliah. Kuliah di kampus yang sama dan di jurusan yang sama. Namun sekarang
mereka telah bekerja sejak 3 tahun lalu setelah lulus. Elisabet bekerja di
salah satu bank swasta sedangkan Jhon bekerja di perusahaan makanan kaleng
sebagai CEO (chief executive officer).
Semasa
kuliah Elis menjadi wanita idaman para lelaki, salah satu diantara mereka adalah
Jhon Bingga. Elis selalu menjadi incaran para pria-pria dikampusnya. Namun, Elis
selalu pintar untuk menempatkan dirinya. Baginya, persahabatan yang utama.
Susah baginya untuk mencari teman daripada musuh.
Suatu
saat, karena malu mengatakan rasa cintanya kepada Elis maka setiap pagi Jhon
selalu mengirimkan setangkai mawar merah kepada Elis melalui seorang penjual
bunga. Kebetulan saat itu keduanya masih single.
Atas
anjuran Jhon, setiap pagi penjual bunga selalu mengantarkan dan menaruh
setangkai mawar merah di depan pintu rumah Elis.
Setiap bunga yang diantarkan kepadanya selalu tidak dicantumkan nama Jhon
Bingga. Yang ada hanyalah alamat penjual bunga itu. Sengaja Jhon melakukannya
agar Elis penasaran.
Sudah
seminggu Elis selalu mendapatkan bunga mawar merah. Tidak tahu dari mana
bunga-bunga ini berasal. Setiap pagi bunga selalu diletakkan di depan pintu
rumahnya. Hal ini, membuat ia penasaran dan mulai bertanya-tanya dalam hatinya,
sebenarnya siapa orang yang selalu memberikan mawar merah kepadanya.
Dengan
rasa penasaran yang tinggi, ia menemui sang penjual bunga..
“Hey,
apakah Anda yang selalu mengantarkan bunga mawar merah kepadaku ?”
“Iya
nona, saya hanya mengantarkan bunga itu kepada nona.”
“Lalu,
siapa sebenarnya yang selalu memberikan bunga mawar merah untukku ?” tanyanya
penuh rasa ingin tau.
“Tuan
Jhon yang menyuruhku untuk memberikan bunga mawar kepada nona. Dia tinggal
disana,” sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah tempat tinggal Jhon.
Ooww,
rupanya dia yang selalu memberiku bunga mawar kepadaku setiap pagi, gumamnya dalam
hati.
“Ya,
saya mengenalnya. Dia teman lamaku sewaktu kuliah. Saya akan menemuinya dan
menanyakan ini kepadanya,” katanya kepada penjual bunga.
Ia
lansung menemui Jhon. Kebetulan saat itu Jhon lagi mencuci mobil kesayangannya
di depan rumahnya. Karena
melihat Elis datang membawa bunga mawar di tangan kanannya maka ia terlihat
agak bingung dan sedikit grogi. Ia berusah lebih dulu menyambutnya agar dapat
menguasainya.
“Hey
Elis, selamat pagi ? baru pertama kali aku melihat kamu lewat sini,” sambut Jhon.
“Iya
Jhon, terpaksa saya lewat sini hanya untuk menanyakan sesuatu padamu.”
Wah,
kali ini membuat hatinya tambah gemetar.
“Apakah
kamu yang selalu memberikan bunga mawar kepadaku ?”
Dengan
kepala tertunduk Ia menjawab, “Ya benar, aku yang selalu memberikan bunga mawar
merah kepadamu setiap pagi. Saya yang selalu menyuruh si penjual bunga untuk
mengantarkannya kepadamu.”
“Mengapa
kamu selalu memberikan bunga mawar merah kepadaku ?”
“Karena
aku suka padamu !” jawab Jhon spontan.
Lanjut
Jhon dengan serius, “supaya kamu tahu Elis, aku menyukai kamu tidak sejak aku
mengirimkan bunga mawar merah untukmu tetapi sejak kita masih kuliah. Aku
selalu berusaha untuk mendekatimu namun perasaan maluku membuat aku tak bisa
mendekatimu. Aku tidak percaya diri ketika ingin berbicara denganmu bahkan
untuk bertemu sekalipun. Aku selalu saja malu dan takut. Namun dibalik semua
itu, aku sangat menyukaimu bahkan mengagumimu !"
“Jika
memang kau menyukaiku, apakah tidak ada cara lain ? Kenapa harus membuat
aku penasan dengan bunga-bungamu ?” tanggap elis kepada jhon.
“Menurutku,
itu cara terbaik bagiku untuk bisa memilikimu. Sengaja aku tidak menuliskan
namaku di setiap bunga mawar yang aku kirimkan kepadamu agar rasa penasaranmu
yang akan memberitahukan padamu bahwa aku yang memberikan bunga-bunga itu.
Inilah perasaan sukaku kepadamu. Maukah kamu menjadi kekasihku ?” dengan harap
yang keras menghangatkan keberaniannya melontarkan kata-kata yang tak
pernah bisa ia ungkapkan.
Sejak masa kuliah, Elis sempat menyukainya karena ketampanan dan kepintarannya. Tapi ia menganggap itu biasa-biasa saja. Baginya, menyukai adalah sesuatu yang normal bagi manusia. Namun kali ini berbeda, Jhon melumpuhkan kenormalan itu sehingga Elis jatuh hati.
Sambut Elis, “Dari
sekian banyak pria, baru pertama kali aku temukan seorang pria yang dapat
membuat aku jatuh hati karena penasaranku atas semua bunga-bungamu. Rasa
penasaranku telah membuat hatiku luluh. Sekarang, caramu telah membuat aku
benar-benar suka padamu. Hadirlah dalam hidupku, temani aku dalam setiap
hidupku.”
Mulai
saat itu, hingga mereka hidup dalam satu keluarga, Elis selalu mendapatkan
setangkai mawar merah setiap hari. Setiap pagi bunga selalu diletakkan di depan
pintu rumah. Saat suaminya bertugas di luar daerah bunga selalu diantarkan
kepada Elis. Saat suaminya sakit bunga selalu diantarkan kepada Elis. Setiap
pagi setangkai mawar merah selalu diantarkan kepada Elis oleh si penjual bunga.
Elis yakin bahwa bunga-bunga yang selalu ia dapatkan pasti pemberian suaminya, Jhon.
Sampai suatu waktu, suaminya meninggal. Elis
merasa bahwa dalam kehidupannya ia tidak akan mendapatkan bunga lagi karena
suaminya telah meninggal. Tetapi tidak, setangkai mawar merah tetap saja
diantarkan kerumahnya. Besok pun sama. Besoknya pun demikian. Hari berikutnya
juga sama saja. Hal itu membuatnya sangat penasaran dan membuat hati Elis tidak
tenang.
Suatu
saat, karena penasaran ia kembali menemui penjual bunga untuk menanyakan
kembali dari mana sebenarnya asal bunga mawar itu. Lalu ia pergi menemuinya.
“Hey,
suami saya telah meninggal 1 minggu yang lalu, kenapa bunga masih saja kau
kirimkan untukku ? Jangan-jangan saat itu kau salah menunjukan orang kepadaku
?”
“Maaf
Nyonya, kata Tuan Jhon, bunga mawar akan stop dikirimkan jika Nyonya
meninggal. Katanya, itu bukti kehadirannya dalam setiap hidup Nyonya
walau tuan sudah tiada”
Elis
menangis setelah mendengarkan kalimat itu. Dengan tangisan dari dalam hati, Elis
membalikan badannya lalu pulang ke rumahnya. Di perjalanan, ia kembali teringat
kisah pertama jadian hingga bunga yang selalu hadir setiap pagi membuatnya
sedih dan terus menangis. Kisah-kisah yang indah membuatnya tak bisa bertahan
diri, pipinya berlinang air mata.
Ia
mengerti bahwa suaminya memberikan pelajaran berharga mengenai arti kehadiran
dalam hidup. Ia bahkan merasa menyesal karena dalam hidup bersamanya Ia tidak
selalu hadir dalam kehidupan suaminya. Elis mengerti bahwa kehadiran bunga
memberikan arti terpenting dalam hidupnya.
Bagi
Jhon, itu hanya ungkapan kebahagiaan karena telah mendaptkan seorang wanita
yang disukainya. Yang berarti akan dicintainya sampai akhir hidupnya. Baginya
yang utama adalah kehadiran untuk kekasihnya, Elis Walau hanya melalui
setangkai bunga namun bunga dapat memberi arti penting dalam hidup bersama.
Bunga merupakan lambang kehadirannya.

0 Komentar
Penulisan markup di komentar